Salam sejahtera bagi kita semua, semoga Allah SWT yang maha pengasih lagi
maha penyayang selalu memberikan rahmat dan karuniaNya yang melimpah kepada
kita selaku hamba-Nya. Semoga Ia mendatangkan mukjijat kepada kita para pemimpin
yang benar, dapat menyampaikan, cerdas dan terpercaya serta memiliki keadilan
dan kebijaksanan sebagaimana yang RosuLuLLoh SAW miliki amiiin.
Tenaga kepandidikan/tenaga honor (pegawai TU, penjaga sekolah, tekhnisi
laboratorium, penjaga perpustakaan, dan lain-lain), guru honor atau guru wiyata
bhakti atau ada juga yang menyebut “sukwan”
adalah para penyelenggara pendidikan yang memiliki tugas dan tanggung jawab
besar yang sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 yaitu “mencerdaskan anak
bangsa”. Amanat para pendiri bangsa tersebut bukanlah suatu hal yang bisa
dikesampingkan karena dengan adanya itu merupakan salahsatu bukti bahwa
pendidikan adalah modal awal untuk membangun suatu negara yang makmur dan
sejahtera.
Para pakar juga telah banyak mengemukakan inilah penyebab utama mengapa
negara kita sulit/ lambat untuk berkembang. Jangankankan dapat membandingkan
dengan negara maju seperti jepang, taiwan, singapur, korea selatan dan negara-negara lain di Asia,
dengan negara yang baru merdeka beberapa tahun kemarin saja Indonesia sudah
kalah telak. Kita ambil saja Vietnam, Vietnam mendpat gelar negara dengan
peningkatan ekonomi tercepat didunia. Sedangkan Indonesia yang telah merdeka
dari mulai tahun 1945 sampai saat ini masih tertinggal.
Sungguh sangat ironis sekali. Namun kita selaku warga negara yang
cinta tanah air, tidak seharusnya iri dengan prestasi negara lain. Tapi
seharusnya kita bangkit dan menciptakan prestasi-prestasi itu sendiri. Cukup
tentang basa-basinya, sesuai dengan judul diatas artikel ini membahas tentang fakta
atau realita yang dialami oleh para pahlawan tersebut sangatlah membuat hati
merasa miris. Bagaimana tidak, mereka dengan seluruh kemampuan dan sekuat
tenaga harus menyelenggarakan pendidikan kepada anak didiknya sebaik mungkin
agar kelak anak didiknya dapat sukses, bahagia dan sejahtera serta dapat
melanjutkan estafet pembangunan bangsa. Dengan begitu semangat mereka
menyerukan pendidikan merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahteraan
dengan ilmu sebagai pintunya, buku adalah gudang ilmunya dan lain sebagainya
sementara ia sendiri sebagai ujung tombak dari pelaksanaan pendidikan yang
dipercaya oleh anak didik dan masyarakat sebagai orang yang berilmu, Hidupnya tidak bisa dikatakan sukses, bahagia apalagi sejahtera. Bagaimana anak didik dan masyarakat percaya kalau pendidikan itu merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahteran.
Dengan gigih mereka menghimbau dan menggalakkan wajib belajar, sementara
mereka sendiri kebingungan ketika anaknya mulai masuk usia sekolah karena
kekurangan biaya untuk membeli seragam. Itulah yang terjadi dalam dunia
pendidikan kita, ditambah lagi kecemburuan sosial yang timbul dengan adanya
sertifikasi bagi para PNS sementara honor/gaji yang mereka terima jauh dari
kata layak, bahkan di salah satu sumber mengatakan ada guru honor yang digaji 50 ribu perak/bulan.
“Alhamdulillah berkat adanya sertifikasi, guru sekarang banyak yang bisa
menunaikan ibadah Haji ke tanah suci”, sementara bagi para honorer mereka
berkata "Alhamdulillah hari ini bisa makan, untuk besok harus kerja apa dulu ya
sekarang".......... yah begitulah yang pernah saya dengar. Bersabarlah para
tenaga honor, sesungguhnya siapa saja yang membuat peraturan dan ketentuan akan mempertanggungjawabkan peraturan dan ketentuannya itu kelak.
Padahal dari segi pekerjaan, tugas dan tanggung jawab yang mereka emban itu
sama, kemudian dari segi akademis banyak diantaranya yang memiliki gelar S1
yang tentunya mereka dapat dari hasil jerih payah semasa kuliah apalagi yang
mengambil kelas reguler yang memiliki jadwal kuliah yang padat dan tugas yang
seabreg-abreg. Salah satu sumber mengatakan “seharusnya para tenaga honor
minimal mendapatkan gaji yang sesuai dengan UMR/UMK masing-masing daerah”. bagus lagi jika lebih, masa disamakan dengan para buruh... Yah
betul sekali, jika kita tengok para buruh pabrik atau sejenisnya yang hanya
mengantongi ijazah SMP-SMA bahkan banyak diantaranya yang hanya bermodal Ijazah
SD mendapatkan penghasilan perbulan yang sesuai dengan UMR/UMK sementara tenaga
honor yang merupakan sarjana hanya mendapat bayaran setara dengan beras 1
karung atau hanya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya selama 1 minggu padahal usia
mereka telah memasuki usia yang seharusnya bisa dikatakan mapan apalagi sangat
banyak diantaranya yang telah berkeluarga.
"Namanya juga S U K W A N (s u k a r e l a w a n) sudah untung diberi honor/tunjangan juga, apalagi dulu sukwan itu tidak diberi sepeserpun" hmmmmm. . . bapak ibu yang terhormat sebagai orang yang berpendidikan seharusnya paham dan bisa membedakan antara dulu dan sekarang. Menurut saya yang awam inipun berpendapat jangan membedakan antara dulu dan sekarang, karena sekarang itu zaman udah berbeda. Baik, jika ingin membandingkan mari kita renungkan saja, dulu sukwan tidak digaji tetapi pengangkatan menjadi PNSnya cepat dan dulu orang yang berpendidikan SPG/SGO yang sekarang setara dengan SMA bisa langsung mengajar sedangkan sekarang minimal S1 atau sedang menempuh pendidikan S1. Jadi sesungguhnya tidak semestinya membandingkan dengan zaman dulu karena itu tidak bisa dijadikan tolak ukur.
"Suruh siapa jadi sukwan, salah siapa pengen jadi sukwan, kenapa tidak bekerja yang lain saja". Mungkin ada yang pernah mengucapkan atau mendengar kalimat seperti itu dan kalimat yang lucu tersebut sebaiknya tidak pernah terucap dari siapapun. Mengapa..? karena itu adalah salahsatu contoh kalimat yang hanya membuat orang lain sakit hati atau paling tidak merasa dirinya tidak dihargai. Sebaiknya sebagai pimpinan yang cerdas, berpendidikan penuh wibawa, bijaksana dan beriman itu menyadari dengan adanya takdir. (rukun iman yang ke enam). Yah benar, tidak ada seorangpun yang dapat menghindar dari takdir.
Sekian tentang realita yang dialami para pahlawan tanpa tanda jasa ini, Tulisan ini dibuat hanya untuk sekedar berbagi dengan harapan dapat ikut andil dalam membela keadilan (hhaaa.... seperti film saja). Tidak menunjuk pada seseorang atau sekelompok orang dan tidak bertujuan untuk yang negatif. Hanya ingin membuka mata hati saja.. sekian dan terimakasih...
Artikel terkait
GURU HONORER = PRAJURIT MASA PENJAJAHAN
"Namanya juga S U K W A N (s u k a r e l a w a n) sudah untung diberi honor/tunjangan juga, apalagi dulu sukwan itu tidak diberi sepeserpun" hmmmmm. . . bapak ibu yang terhormat sebagai orang yang berpendidikan seharusnya paham dan bisa membedakan antara dulu dan sekarang. Menurut saya yang awam inipun berpendapat jangan membedakan antara dulu dan sekarang, karena sekarang itu zaman udah berbeda. Baik, jika ingin membandingkan mari kita renungkan saja, dulu sukwan tidak digaji tetapi pengangkatan menjadi PNSnya cepat dan dulu orang yang berpendidikan SPG/SGO yang sekarang setara dengan SMA bisa langsung mengajar sedangkan sekarang minimal S1 atau sedang menempuh pendidikan S1. Jadi sesungguhnya tidak semestinya membandingkan dengan zaman dulu karena itu tidak bisa dijadikan tolak ukur.
"Suruh siapa jadi sukwan, salah siapa pengen jadi sukwan, kenapa tidak bekerja yang lain saja". Mungkin ada yang pernah mengucapkan atau mendengar kalimat seperti itu dan kalimat yang lucu tersebut sebaiknya tidak pernah terucap dari siapapun. Mengapa..? karena itu adalah salahsatu contoh kalimat yang hanya membuat orang lain sakit hati atau paling tidak merasa dirinya tidak dihargai. Sebaiknya sebagai pimpinan yang cerdas, berpendidikan penuh wibawa, bijaksana dan beriman itu menyadari dengan adanya takdir. (rukun iman yang ke enam). Yah benar, tidak ada seorangpun yang dapat menghindar dari takdir.
Sekian tentang realita yang dialami para pahlawan tanpa tanda jasa ini, Tulisan ini dibuat hanya untuk sekedar berbagi dengan harapan dapat ikut andil dalam membela keadilan (hhaaa.... seperti film saja). Tidak menunjuk pada seseorang atau sekelompok orang dan tidak bertujuan untuk yang negatif. Hanya ingin membuka mata hati saja.. sekian dan terimakasih...
GURU HONORER = PRAJURIT MASA PENJAJAHAN
thants right... smg pemerintah membaca artike ini. mgkn sudah seharusnya guru sukwan lebih diperhatikan.
BalasHapusSeharusnya dari dulu diperhatikan..
BalasHapus