Translate

Minggu, 13 Januari 2013

GURU HONORER = PRAJURIT MASA PENJAJAHAN




Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada para pembaca yang budiman, telah berkunjung kembali dalam blog kecil ini. Ini hanya tulisan sederhana yang memiliki banyak kekurangan namun dapat mewakili suara beribu-ribu jiwa di seluruh nusantara. Baiklah langsung saja kita lanjutkan tulisan yang kemarin, masih tentang guru honor yang diperlakukan seperti apa yang telah saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Bagi yang belum membacanya silahkan klik disini..!!
Guru honorer sama dengan prajurit pada masa penjajahan. Kenapa saya memberi judul postingan ini seperti itu karena saya beranggapan guru honor tidak ada bedanya dengan prajurit kita pada masa penjajahan yang harus bertarung, berjuang, berperang, mengorbankan keluarga demi perubahan demi bangsa yang maju, aman, damai, tentram dan sejahtera. Sekarang kita review kembali pada masa itu dikala seorang rakyat sipil harus berperang melawan penjajah sambil mencari nafkah untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Coba anda jawab berapa waktu yang dibutuhkan dengan cara itu..?? Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang..? yah, Indonesia baru bisa merdeka setelah ratusan tahun itupun setelah Hirosima dan Nagasaki hancur oleh nuklir Amerika dan Sukarno, Bung Hatta dan yang lainnya segera membentuk prajurit husus bersenjata lengkap untuk menghalau Belanda yang berencana mengambil alih kembali kekuasaan.
Para menteri, para pejabat dan para cendikiawan-cendikiawan Indonesia berpikir keras bagaimana cara mengoptimalkan pendidikan kita agar perubahan (kemajuan dan kesejahteraan bangsa) segera tercapai. Berbagai cara telah dilakukan, berbagai metode telah dikembangkan sedangkan prajurit pemberantas kebodohannya sendiri tidak bisa fokus berperang dikarenakan harus mencari isi perutnya dan keluarganya.
Coba kita berfikir, bukankah hal ini sama dengan saat penjajahan dulu. Coba kita bayangkan misalnya para mesin tempur kita (prajurit TNI) yang terlatih, memiliki strategi perang, gagah, perkasa, sedang bertempur di medan perang mnghadang dan menghempas gempuran AK 47, M16, granat, rudal, roket, senjata biologis, tenk, shukoi, F 16 dan lain lain harus sambil mencari uang untuk menghidupi keluarganya di rumah. Bagaimana bisa menang dalam perang itu. Sama halnya dengan guru. Telah dilatih, diberikan strategi pembelajaran dan dibekali berbagai ilmu pengetahuan yang mereka tempuh pada masa kuliah sekarang sedang bertempur melawan kebodohan dengan hantaman perkembangan zaman, dengan faktor penghambat pendidikan baik internal ataupun eksternal dan lain-lain harus dilakukan sambil mencari isi perut. Strategi pembelajaran komplikasi dengan strategi mencari uang. Bagaimana mungkin hasilnya juga dapat memuaskan, bagaimana mungkin perubahan bangsa dapat dicapai. JIka saja dapat tercapai ya kira-kira membutuhkan waktu ratusan tahun pula. Seperti merdekanya Indonesia. Apa kita mau seperti itu..?? Apa kita mau lebih jauh tertinggal..?? Tentu saja tidak..
Berdasarkan salah satu sumber yang saya baca, Tugas mereka dengan guru PNS itu sama bahkan banyak guru honor yang memiliki kualifikasi yang lebih dari guru PNS. Tapi mengapa hak mereka dibedakan. Mengapa harus ada tembok tebal tinggi menjulang antara honorer dan PNS. Seharusnya honor yang mereka terima itu sama. Mengapa di Sekolah Dasar honor mereka tidak dihitung berdasarkan jumlah jam mengajar..???? apa, kenapa….???
Padahal PNS malah sering meminta bantuan kepada honorer. Tugas berat dikerjakan honorer tetapi kadang-kadang menyepelekan honorer. Tidak sedikit PNS yang bekerja hanya datang, duduk, absen, ceramah, memberi tugas, member catatan, pulang. Sementara tugas yang bersangkutan dengan penyelenggaraan pendidikan lainnya ia serahkan kepada para honorer. Tolong berikan keadilan, mereka juga manusia, butuh makan, butuh minum, memiliki kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Sama, kenapa harus banyak kata sabar..??? Perut mereka beserta perut istri dan anaknya TIDAK BISA BERSABAR. Para pejabat bukalah mata anda. Masa iya prajurit bangsa dibayar 200 ribu perak perbulan. Ini bisa dikatakan pelecehan terhadap pendidikan. Lebih parah lagi akan timbul polemik di masyarakat yanga mengatakan bahwa orang yang berpendidikan itu ternyata tidak dihargai.
Kalau memang ingin mencapai tujuan nasional, jalankanlah..! mereka manusia bukan robot, jika mereka robotpun mereka perlu dana untuk perawatan. memangnya seperti dulu honorer itu usia 18an, lulusan SMA/SPG/SGO, usia 21-22 sudah diangkat PNS. Sekarang rata-rata 23-30 tahun lulusan S1, sudah tidak bisa minta pada orang tua, sudah berkeluarga, darimana lagi mereka mendapat penghasilan karena mereka telah mengabdikan diri pada Negara. Mereka sangat mencintai Negara ini, mereka rela mati demi bangsa, tolong cintai juga mereka, jangan bunuh mereka secara perlahan..!
Para PNS, Para Kepala sekolah, para pengawas, para Kapusbindik, para pejabat daerah, para DPR, para mentri dan para pejabat tinggi Negara lainnya bicaralah, perjuangkanlah. Bukankah anda semua memerlukan mereka. Bayangkan jika sekolah tempat anda bekerja tidak terdapat guru honorer, betapa sibuknya anda mengelola kelas betapa sibuknya anda mengelola sekolah, akankah sekolah akan berjalan efektif.? Memang, lapangan pekerjaan di Negeri ini sulit, ingin bekerja sebagai PNS saja mekanismenya begitu rumit, tapi tolong Jangan memanfaatkan situasi itu.
Terimakasih kami sampaikan kepada Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Pusat, Bapak H. Sulistiyo, M.Pd beserta jajarannya yang telah mendesak DPR untuk mengeluarkan kebijakan tentang standarisasi upah minimum untuk guru honorer. Jika saya boleh menambahkan NUPTK jangan dijadikan faktor utama untuk mendapatkan hak itu, karena ternyata mekanisme pengajuan NUPTK pun entah mengapa menjadi sulit dan prosesnya lama setelah adanya sertifikasi guru. Masa tidak boleh ada pengajar lagi, kan sudah jelas disebutkan bahwa Negara kita kekurangan guru dan itu memang betul. Di daerah saya saja yang bukan daerah terpencil rata-rata pengajar tetap di satu sekolah hanya sebagian dari jumlah yang seharusnya. Kekurangan itu diisi oleh honorer. Kalau memang sudah jelas tempat tugasnya dan di sekolah tersebut memang dibutuhkan kenapa pengajuan NUPTK harus sulit.? Perlu saya sampaikan juga dari database yang ada di kemdikbud yang saya lihat melaui web NUPTK browser, banyak nama-nama PTK yang tidak sesuai dengan tempat mereka bekerja.
Jika semua perjuangan yang dilakukan untuk mengangkat penderitaan guru honor dapat terwujud, sungguh anda telah melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Kami tidak mampu membayangkan betapa besarnya amal yang telah dilakukan oleh anda karena anda telah memperjuangkan ratusan ribu anak, ratusan ribu istri, ratusan ribu suami, ratusan ribu anak yatim, ratusan ribu orang miskin yang seharusnya tidak miskin.
Kami yakin semua yang menyebarkan ketidakadilan ini pada publik apalagi yang memperjuangkan haL ini  hidupnya akan sangaaaaat berkah dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa daLam hidupnya serta mendapat tempat yang istimewa di sisi Tuhan Yang Maha Esa keLak.. S U R G A . . . Beramal bukan hanya dengan menyodorkan materi. LihatLah betapa luar biasanya pahala yang didapat jika anda berhasiL memperjuangkannya. dan sebaliknya orang yang menampik kenyataan ini serta yang mempersulit/mempersempit jalan bayangkan sendiri dosa yang telah anda lakukan
Sekian dan terimakasih.

Artikel terkait

REALITA YANG DIALAMI GURU HONOR

2 komentar:

  1. SANGAT MIRIS KETIKA DIBICARAKAN SM PEMEGANG KEBIJAKAN KATANYA "SIAPA SURUH JADI GURU HONOR KALAU TIDAK MAU CARI KERJAAN LAIN SUADAH TAHU GAJI 200 RB KENAPA MAU".....!

    BalasHapus
  2. PENGEN PUNYA SMARTPHONE KELAS ATAS TAPI GA BIKIN KANTONG TERKURAS? SILAHKAN CHAT DI BBM INVET PIN: 24C4A399 ATAU HUB/SMS:0857-5729-9675-KLIK http://nabila-saira-shop.blogspot.com/ ATAS NAMA NABILA SAIRA SHOP. TERSEDIA BERBAGAI MEREK MULAI DARI SAMSUNG, I PHONE, ZONY EXPERIA DLL JUGA ADA LAPTOP, CAMERA, DLL. BARANG ASLI ORIGINAL 100%, ( BUKAN SC ATAU REPLIKA )

    BalasHapus

Terimakasih telah berbicara sopan..